Sumber Ajaran Agama Syiah

Sebenarnya dari mana sih umat Syi’ah mengambil ajaran agamanya? Mengapa kita sering mendengar kawan-kawan Syi’ah berdalil dari kitab Shahih Bukhari?.

Sebagaimana Ahlus Sunnah memiliki kitab hadits yang berasal dari Nabi, maka sebagai madzhab, Syi’ah pun harus memiliki kitab-kitab yang berisi sabda para Imam Ahlul Bait, mereka yang wajib diikuti bagi penganut Syi’ah. Lalu mengapa Syi’ah mengemukakan dalil dari kitab-kitab hadits Sunni seperti shahih Bukhari dan Muslim? Mereka menggunakan hadits-hadits itu dalam rangka mendebat Ahlus Sunnah, bukan karena beriman pada isi hadits itu. Lalu apa saja rujukan Syi’ah Imamiyah?

KIAB RUJUKAN AGAMA SYIAHSyi’ah Imamiyah menganggap sabda 12 Imam Ahlul Bait sebagai ajaran yang wajib diikuti, ini sesuai dengan ajaran mereka yang menganggap 12 Imam Ahlul Bait sebagai penerus risalah Nabi. Sabda-sabda tersebut tercantum dalam kitab-kitab Syi’ah, namun sayangnya kitab-kitab itu tidak begitu dikenal atau tepatnya sengaja tidak disebarluaskan oleh penganut Syi’ah di Nusantara. Insya Allah kami akan memudahkan pembaca untuk mendownload sebagian kitab rujukan mereka yang memuat sabda-sabda para Imam Ahlul Bait. Tapi pembaca pasti penasaran untuk membaca sabda Ahlul Bait, karena salah satu murid Imam Ja’far As-Shadiq yang bernama Zurarah mengatakan dalam sebuah riwayat dari Al-Kisyi yang meriwayatkan dalam bukunya Rijalul Kisyi dengan sanadnya dari Muhammad bin Ziyad bin Abi Umair dari Ali bin Atiyyah bahwa Zurarah berkata: “Jika aku menceritakan seluruh yang kudengar dari Abu Abdillah (Ja’far As-Shadiq), maka laki-laki yang mendengar perkataan Imam Ja’far pasti akan berdiri kemaluannya.” (Lihat: Rijalul Kisyi, hal. 134). Lantas, kira-kira cerita apa yang dibawa oleh Imam Ja’far sehingga membuat kemaluan berdiri?.

Sedangkan umat Syi’ah mengatakan bahwa para Imam mendapat ajaran dari Imam sebelumnya yang mendapatkan ajaran dari Nabi. Juga umat Syi’ah mengajarkan bahwa ajaran para Imam harus diikuti. Tapi ternyata Imam yang satu ini suka mengajarkan cerita-cerita yang membuat kemaluan berdiri. Jangan-jangan ajaran di atas sudah disensor. Lalu bagaimana hukum menyensor ajaran Ahlul Bait yang wajib diikuti?

Literatur Syi’ah yang dianggap sebagai literatur utama yang memuat riwayat sabda Ahlul Bait ada 8 kitab utama, ulama mereka menyebutnya dengan sebutan “Al-Jawami’ Ats-Tsamaniah” (kitab kumpulan yang delapan), ini sesuai dengan yang tercantum dalam kitab Muftahul Kutub Al-Arba’ah, jilid. 1, hal. 5, dan A’yanus Syi’ah, jilid. 1, hal. 288. Dalam makalahnya yang berjudul metode praktis untuk pendekatan Sunnah – Syi’ah (dimuat dalam masalah Risalatus Islam, juga dimuat bersama makalah lain yang diambil dari majalah yang sama dengan judul “persatuan islam”, hal. 233, Muhammad Shaleh Al-Ha’iri mengatakan: “kitab shahih Imamiyah ada delapan, empat di antaranya di tulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup terdahulu, tiga lagi ditulis oleh tiga orang yang bernama Muhammad yang hidup setelah tiga yang pertama, yang kedelapan ditulis oleh Al-Husein Nuri At-Thabrasi.

Kitab pertama dan yang tershahih di antara delapan kitab di atas adalah Al-Kafi. Ini seperti disebutkan dalam kitab Adz-Dzari’ah, jilid. 17, hal. 245, Mustadrak Al Wasa’il, jilid. 3, hal. 432, dan Wasa’il Asy-Syi’ah, jilid. 20, hal. 71. kitab-kitab di atas menyebutkan bahwa kitab Al-Kafi adalah kitab yang tershahih dari empat kitab utama mereka, karena kitab Al-Kafi ditulis pada era Ghaibah Sughra, yang mana saat itu masih mungkin untuk mengecek validitas riwayat yang ada dalam kitab itu. karena pada era ghaibah sughra Imam Mahdi masih dapat dihubungi melalui “duta yang empat” yang dapat berhubungan dengan Imam Mahdi dan menerima seperlima bagian dari harta Syi’ah.

Jumlah riwayat dalam kitab Al-Kafi ada 16.099, seperti diterangkan dalam kitab A’yanus Syi’ah, jilid. 1, hal. 280. Kitab Al-Kafi ini telah dijelaskan oleh para Ulama Syi’ah, di antaranya adalah oleh Al-Majlisi –penulis Biharul Anwar– yang menulis penjelasan kitab Al-Kafi dan diberi judul Mir’aatul Uquul. Dalam kitabnya itu Al-Majlisi juga menilai validitas hadits Al-Kafi, di antara hadits yang dianggapnya shahih adalah hadits yang menerangkan bahwa Al-Qur’an telah diubah. Berikut terjemahan nukilan dari Mir’atul Uqul:

Abu Abdillah berkata: “Al-Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. (Al-Kafi, jilid. 2, hal. 463. Muhammad Baqir Al-Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqah. Lihat dalam Mir’atul Uqul, jilid. 2, hal. 525).

Begitu juga ada kitab lain yang berisi penjelasan riwayat Al-Kafi, yaitu Syarh Jami’ yang ditulis oleh Al-Mazindarani begitu juga terdapat kitab yang berjudul As-Syafi fi Syarhi Ushulil Kafi, ada lagi kitab yang judulnya At-Ta’liqah Ala Kitabil Kafi yang ditulis oleh Muhammad Baqir Al-Husaini, tapi hanya menjelaskan sampai Kitabul Hujjah saja. Ada lagi kitab Al-Hasyiyah Ala Ushulil Kafi karangan Rafi’uddin Muhammad bin Haidar An-Na’ini, juga Badruddin bin Ahmad Al-Husaini Al-Amili.

Kitab kedua adalah Man La Yahdhuruhul Faqih yang ditulis oleh Muhammad bin Babawaih Al-Qummi, yang juga dikenal dengan sebutan As-Shaduq, keterangan mengenai kitab ini adapat dilihat dalam kitab Raudhatul Jannat, jilid. 6, hal. 230-237, A’yanus Syi’ah, jilid. 1, hal. 280, juga dalam Muqaddimah kitab Man La Yahdhuruhul Faqih, kitab ini memuat 176 bab, yang pertama adalah bab Thaharah dan ditutup dengan bab. Nawadir. Kitab ini memuat 9044 riwayat.

Disebutkan dalam pengantar bahwa penulisnya sengaja menghapus sanad dari setiap riwayat agar tidak terlalu memperbanyak isi kitab, juga disebutkan bahwa penulisnya mengambil riwayat untuk ditulis dalam buku ini dari kitab-kitab yang terkenal dan dapat diandalkan, penulis hanya mencantumkan riwayat yang diyakini validitasnya. Ditambah lagi dengan kitab Tahdzibul Ahkam, keterangan mengenai kitab ini dapat ditemui dalam kitab Mustadrakul Wasa’il, jilid. 4, hal. 719, kitab Adz-Dzari’ah, jilid. 4, hal. 504, juga dalam Pengantar Tahdzibul Ahkam sendiri. Kitab ini ditulis untuk memecahkan kontradiksi yang terjadi pada banyak sekali riwayat Syi’ah, kitab ini berisi 393 bab. Mengenai jumlah haditsnya akan kita bahas kemudian.

Begitu juga kitab Al-Istibshar, yang terdiri dari tiga jilid, dua jilid memuat bab ibadah, sementara pembahasan fiqih lainnya dicantumkan pada jilid ketiga. Kitab ini memuat 393 bab, dalam kitabnya ini penulis hanya mencantumkan 5.511 hadits dan mengatakan: “Saya membatasinya supaya tidak terjadi tambahan maupun pengurangan.” Sementara dalam kitab Adz-Dzari’ah ila Tashanifisy Syi’ah disebutkan bahwa jumlah haditsnya ada 6.531, berbeda dengan penuturan penulisnya sendiri. (Silahkan dirujuk ke kitab Ad-Dzari’ah, jilid. 2, hal. 14, A’yanus Syi’ah jilid 1 hal 280, Pengantar Al-Istibshar, tulisan Hasan Al-Khurasan. Kedua kitab di atas –Tahdzibul Ahkam dan Al-Istibshar– adalah karya ulama tersohor Syi’ah yang bergelar “ Syaikhut Tha’ifah” yaitu Abu Ja’far Muhamamd bin Hasan Al-Thusi (wafat 360 H). Al-Faidh Al-Kasyani dalam Al-Wafi, jilid. 1, hal. 11, mengatakan: “Seluruh hukum syar’i hari ini berporos pada empat kitab pokok, yang seluruh riwayat yang ada di dalamnya dianggap shahih oleh penulisnya.”

Agho Barzak Tahrani –salah satu mujtahid Syi’ah masa kini– mengatakan dalam kitab Adz-Dzari’ah, jilid. 2, hal. 14: “Empat kitab ditambah dengan kitab kumpulan hadits adalah dasar bagi hukum syar’i hingga saat ini. Pada abad 11 Hijriah para ulama Syi’ah menyusun beberapa kitab, empat di antaranya disebut oleh ulama Syi’ah hari ini dengan: Al-Majami’ Al-Arba’ah Al-Mutaakhirah” (empat kitab kumpulan hadits belakangan/terakhir); empat kitab itu adalah: Al-Wafi yang disusun oleh Muhamad bin Murtadha yang dikenal dengan julukan Mulla Muhsin Al-Faidh Al-Kasyani –wafat tahun 1091 H– terdiri dari tiga jilid tebal, dicetak di Iran, memuat 273 bab. Muhammad Bahrul Ulum mengatakan bahwa kitab Al-Wafi memuat 50.000 hadits (Lihat: footnoote kitab Lu’lu’atul Bahrain, hal. 122) sementara Muhsin Al-Amin mengatakan bahwa Al-Wafi memuat 44.244 hadits, bisa dilihat dalam A’yanus Syi’ah).

Lalu kitab Biharul Anwar Al-Jami’ah Li Durar Akhbar Aimmatil At-har, karya Muhammad Baqir Al-Majlisi –wafat tahun 1110 atau 1111 H–. Ulama Syi’ah menyatakan bahwa Biharul Anwar adalah kitab terbesar yang memuat hadits dari kitab-kitab rujukan Syi’ah, bisa dilihat keterangan mengenai kitab ini dalam Adz Dzari’ah, jilid. 3, hal. 27, juga A’yanus Syi’ah, jilid. 1, hal. 293.

Selain itu juga ada kitab Wasa’ilus Syi’ah ila Tahsil Masa’ilisy Syari’ah yang disusun oleh Muhammad bin Hasan Al-Hurr Al-Amili, yang dianggap sebagai kitab terlengkap yang memuat hadits hukum fiqih bagi Syi’ah Imamiyah.

Dalam kitab ini terkumpul riwayat dari kitab empat utama dan ditambah dengan riwayat lain dari kitab-kitab lain yang dianggap sebagai rujukan, yang konon jumlahnya mencapai tujuh puluh kitab seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Adz-Dzari’ah. Tetapi Syirazi dalam pengantar kitab Wasa’il menyebutkan jumlah kitab yang menjadi rujukan adalah 180 kitab lebih, Al-Hurr Al-Amili menyebutkan judul-judul kitab yang menjadi rujukannya yang berjumlah lebih dari delapan puluh kitab, dia juga menyebutkan bahwa dia mengambil rujukan dari kitab-kitab selain yang telah disebutkan, tetapi dia merujuknya dengan perantaraan nukilan kitab lain. Silahkan merujuk pada Muqaddimatul Wasa’il yang ditulis oleh As-Syirazi, begitu juga A’yanus Syi’ah, jilid. 1, hal. 292-293, Adz Dzari’ah, jilid. 4, hal. 352-353, dan Wasa’ilusy Syi’ah, jilid. 1, hal. 408 serta jilid. 20, hal. 36-49.

Lalu kitab Mustadrakul Wasa’il wa Mustanbtul Masa’il yang disusun oleh Husein Nuri At-Thabrasi –wafat 1320 H–. Agho Barzak Tahrani mengatakan: “Kitab Mustadrak Wasa’il menjadi seperti kitab kumpulan hadits lainnya yang harus ditelaah dan dijadikan rujukan oleh para mujtahid dalam memutuskan hukum syareat, kebanyakan ulama kami saat ini tunduk mengikuti kitab itu.” (Lihat: kitab Adz-Dzari’ah, jilid. 2, hal. 110-111). Lalu Agho Barzak memperkuat pernyataannya dengan nukilan dari ulama-ulama Syi’ah yang menjadikan kitab Mustadrak Wasa’il sebagai rujukan utama mereka. (Adz-Dzari’ah, jilid. 2, hal. 111).

Jika pembaca merasa pernah mendengar nama Nuri At-Thabrasi, dia adalah penyusun kitab Fashlul Khitab fi Itsbati Tahriifi Kitaabi Rabbil Arbab –Pemutus perkara, pembuktian bahwa kitab Tuhan telah dirubah–, kitab itu menyebutkan dalil-dalil yang memperkuat pendapat bahwa Al-Qur’an yang ada hari ini telah diselewengkan dan diubah oleh “tangan-tangan kotor”. Dalam Muqaddimah Mustadrakul Wasa’il, Agha Barzak Tahrani mengatakan: “Dia adalah salah seorang Imam ahli hadits dan rijalul hadits di masa ini, termasuk jajaran ulama besar Syi’ah dan ulama besar Islam di abad ini.”

Bagaimana orang yang tidak beriman kepada Al-Qur’an menjadi ulama besar Syi’ah? Pada pengantar Mustadrak Wasa’il, Agha Barzak Thrani mengatakan bahwa salah satu karya Husein Nuri At-Thabrasi adalah kitab Fashlul Khitab.

Kita patut meragukan, apakah sumber mereka (Syi’ah) masih orisinil atau sudah dipermak sana sini. Dengan mengetahui validitas sumber sebuah ajaran, kita bisa menilai validitas ajaran tersebut.

Ada beberapa kitab yang dianggap oleh Syi’ah sejajar dengan kitab empat di atas, artinya derajat validitas riwayatnya tidak berbeda, sehingga kitab itu berisi dalil-dalil yang valid untuk penyimpulan hukum syareat menurut Syi’ah Imamiyah. Hal ini seperti disebutkan oleh Al-Majlisi pada pengantar Biharul Anwar –bisa dilihat pada jilid. 1, hal. 26–: “Kitab-kitab karya Ash-Shaduq –selain lima kitab– sama terkenalnya dengan kitab empat.” Al-Majlisi meneruskan: Begitu juga kitab Basha’ir Darajat termasuk literatur pokok yang juga dijadikan rujukan oleh Al-Kulaini dan lainnya. (Bisa dilihat di halaman yang sama, Al-Majlisi juga menyebutkan kitab-kitab lain yang sederajat dengan kitab empat. Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh Al-Hurr Al-Amili dalam kitab Wasa’il Syi’ah, jilid. 20. Juga dalam pengantar setiap kitab disebutkan bahwa kitab itu sama validnya dengan kitab yang empat.

Nampaknya yang disebut adalah dua kitab itu, yaitu kitab-kitab As-Shaduq dan Bashair Darajat, karena kitab-kitab itu adalah kitab-kitab besar kumpulan hadits, atau bisa jadi juga untuk menyaingi madzhab Ahlus Sunnah dan untuk sekedar promosi. Nampak hal itu dengan jelas ketika kita melihat kitab Al-Wafi dimasukkan ke delapan kitab rujukan utama, dan kitab itu dianggap sebagai kitab tersendiri, padahal isi kitab Al-Wafi hanyalah kumpulan dari empat kitab utama (Al-Kafi, Tahdzib, Al-Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih), mengapa dianggap sebagai kitab baru, padahal isinya hanyalah pengulangan dari empat kitab yang terdahulu. Ini semua dalam rangka membuat image bahwa Syi’ah memiliki banyak rujukan, padahal isinya itu-itu juga, pengulangan dari empat kitab rujukan. Begitu juga kitab Al-Istibshar dianggap sebagai kitab tersendiri, padahal kitab Al-Istibshar hanyalah ringkasan dari kitab Tahdzibul Ahkam, seperti dijelaskan oleh At-Thusi sendiri pada pengantar kitab Al Istibshar – jilid. 1, hal. 2-3 – begitu juga siapa saja yang menelaah kedua kitab itu akan jelas mendapati bahwa kitab Al-Istibshar hanyalah ringkasan dari kitab Tahdzibul Ahkam. Semua ini jelas dalam rangka promosi madzhab.

Begitu juga anda akan menemukan bahwa kitab Biharul Anwar karya asli penulisnya hanya sebanyak 25 jilid, lalu karena jilid ke 25 nampak terlalu besar maka dipisah menjadi 2 jilid, akhirnya jumlah keseluruhan kitab Biharul Anwar hanyalah 26 jilid. (Bisa dilihat hal ini dalam kitab Ad-Dzari’ah, jilid. 3, hal. 27. Tetapi kitab Biharul Anwar hari ini berjumlah 110 jilid, dimulai dari jilid 0, supaya nampak intelek. Pembaca yang “intelek” akan bertanya-tanya tentang asal tambahan kitab Biharul Anwar dari jilid 27 sampe jilid 110, hasil karya Al-Majlisi sendiri –yang menulis 26 jilid– atau ada tangan-tangan lain yang menambah supaya nampak tebal?

Syi’ah memang senang sekali dengan yang demikian, biasanya ada sekelompok orang yang digaji khusus oleh Hauzah Ilmiyah untuk menulis sebuah buku, lalu buku itu dibuat seolah ditulis oleh satu orang, seakan orang itu menulis buku yang besar yang sangat sulit utnuk ditulis oleh sendirian, seperti bisa kita perhatikan kitab Al-Ghadir –yang konon ditulis oleh seorang bernama Abdul Husein Al-Amini–, selain itu Syi’ah juga gemar mengaku-aku, bahwa Syi’ah adalah pionir dalam semua cabang ilmu, padahal pengetahuan mereka hanyalah mengambil dari kitab-kitab Ahlus Sunnah, mereka memiliki pendapat-pendapat aneh yang membongkar kebohongan mereka. Dalam kitab A’yanus Syi’ah banyak sekali ulama Ahlus Sunnah yang dianggap sebagai Syi’ah Imamiyah hanya karena mereka memiliki sedikit kecondongan kepada Ali, padahal hal demikian itu tidak sampai membuat mereka masuk menjadi Syi’ah Rafidhah, karena kecintaan Ahlus Sunnah kepada Ahlul Bait adalah kecintaan sejati, lebih dari kecintaan Syi’ah Rafidhah kepada Ahlul Bait.

Isi kitab-kitab utama Syi’ah hanyalah maslah fiqih, kecuali dua jilid pertama dari kitab Al-Kafi yang memuat pembahasan tentang akidah Syi’ah. Jika kita perhatikan, isi kitab fiqih mereka mirip dengan fiqih Ahlus Sunnah, membuat kita makin percaya dengan keterangan para ulama yang menyebutkan bahwa ulama Syi’ah banyak yang mencontek kitab Ahlus Sunnah, di antaranya adalah Ibnu Taimiyah dalam Minhajussunnah, jilid. 3, hal. 264. Syi’ah memiliki pendapat-pendapat aneh dalam fiqih, yang berbeda dengan ulama Ahlus Sunnah, pendapat-pendapat itu kadang begitu aneh dan tak terbayangkan bahwa pendapat-pendapat itu perlu ditulis dalam kitab tersendiri. Asy-Syarif Al-Murtadha mengumpulkan pendapat-pendapat Syi’ah yang berbeda dengan ulama Ahlus Sunnah dalam kitabnya Al-Intishar. Sebagai selingan, tidak ada salahnya bila kita menyimak sedikit pendapat-pendapat yang hanya dimiliki oleh Syi’ah dari kitab Al-Intishar:

Keluar Madhi dan Wady tidak membatalkan wudhu – Lihat Al-Intshar, hal. 119.

Wajib mengucapkan Hayya Ala Khairil Amal dalam adzan – Lihat Al-Intshar, hal. 137.

Wajib hukumnya shalat gerhana matahari maupun bulan, siapa yang ketinggalan harus mengqadha’ – Lihat Al-Intshar, hal. 173.

Barangsiapa berpuasa ramadhan dalam keadaan musafir maka harus membayar puasanya – Lihat Al-Intshar, hal. 190. (Sungguh kasihannya…).

Orang sakit yang memaksakan diri berpuasa di bulan Ramadhan –padahal dia dibolehkan untuk tidak berpuasa– maka puasanya tidak sah dan tetap harus mengqadha’ – Lihat Al-Intshar, hal. 192.

Jika menemukan bangkai ikan di tepi sungai, sedangkan dia tidak tahu apakah ikan tersebut mati atau disembelih, maka dicelupkan di air, jika ikan tersebut mengambang di atas dadanya maka ikan itu disembelih, jika mengambang di atas punggungnya maka ikan itu mati dengan sendirinya tanpa disembelih – Lihat Al-Intshar, hal. 402. (Dimana letak perbedaan antara punggung dan dada ikan?).

Sembelihan ahli kitab haram dimakan – Lihat Al-Intshar, hal. 403.

Haram memakan makanan buatan orang kafir – Lihat Al-Intshar, hal. 409.

Ibnu Aqil Al-Hanbali menukil pendapat-pendapat itu dan dia pun merasa heran, tulisan Ibnu Aqil dinukil juga oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Muntazham –jilid. 8, hal. 120– juga Ibnul Jauzi menuliskan dalam Al-Maudhu’at: “Rafidhah telah membuat kitab fiqih yang mereka sebut sebagai madzhab Imamiyah, di dalamnya memuat pendapat yang menyimpang dari ijma’ kaum muslimin tanpa dalil apa pun.” (Lihat Al-Maudhu’at, jilid. 1, hal. 338).

Sementara bahasan lain yang terdapat dalam Al-Kafi dan Biharul Anwar adalah tentang tauhid, al’adl, Imamah… kebanyakan berisi keyakinan mereka tentang Imamah dan para Imam yang dua belas, tentang penunjukan mereka dari Allah, sifat-sifat para Imam, kisah hidup mereka dan keutamaan berziarah ke kubur mereka. Begitu juga membahas tentang musuh para Imam, terutama para sahabat Nabi SAW, jika kita perhatikan, mayoritas bahasan adalah tentang Imamah dan para Imam.

Pembaca yang menelaah kitab hadits Syi’ah akan mendapati jurang perbedaan antara kitab hadits Syi’ah dan kitab hadits Ahlus Sunnah, begitu juga perbedaan yang ada pada riwayat Ahlus Sunnah dan Syi’ah imamiyah. Kitab sunnah yang meriwayatkan hadits, hanyalah meriwayatkan hadits Nabi, dan hanya hadits Nabi-lah yang disebut dengan hadits. Sedangkan kitab hadits Syi’ah mayoritas memuat riwayat dari salah satu dari dua belas Imam mereka, selain itu mereka juga berkeyakinan bahwa riwayat yang berasal dari Imam sama dengan riwayat yang berasal dari Nabi, artinya sabda Imam sama seperti sabda Nabi.

Jika kita perhatikan kitab hadits Syi’ah, kita akan menemukan bahwa hadits yang berasal dari Nabi sangatlah sedikit, sedangkan mayoritas riwayat dalam kitab Al-Kafi adalah dari Ja’far Ash-Shadiq, sangat jarang sekali yang berasal dari ayahnya Muhammad Al-Baqir, apalagi yang berasal dari Amirul Mukminin Ali, jumlahnya lebih sedikit, begitu juga yang berasal dari Nabi SAW, jauh lebih sedikit.

Begitu juga kita perhatikan, empat kitab utama Syi’ah disusun pada abad ke sebelas Hijriyah, dan setelahnya, yang terakhir ditulis oleh Husein Nuri At-Thabrasi, –judulnya Mustadrakul Wasa’il– yang wafat tahun 1320 H –hidup sejaman dengan syaikh Muhammad Abduh–.

Kitab itu memuat 23.000 hadits dari para Imam Syi’ah (Lihat: Ad-Dzari’ah, jilid. 7, hal. 21) yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Kitab itu ditulis ratusan tahun setelah wafatnya para Imam, jika memang benar kitab itu berisi riwayat bersanad dari para Imam bagaimana orang berakal bisa percaya pada riwayat yang belum pernah ditulis sejak 11 abad atau 13 abad lalu? jika memang riwayat itu tertulis dalam kitab, mengapa kitab itu baru ditemukan di abad 14 Hijriah? Sebagian penulis kitab Syi’ah menyatakan bahwa mereka menemukan buku yang belum pernah ditemukan sebelumnya, Al-Majlisi mengatakan: “Alhamdulillah, di depan kami terkumpul sebanyak 200 judul buku, seluruh isinya telah aku nukil dalam Biharul Anwar, (Lihat: I’tiqadat Al-Majlisi, hal. 24, dan Al-Fikr Asy-Syi’i, hal. 61). sementara Al-Hurr Al-‘Amili menyatakan bahwa dirinya memiliki delapan puluh kitab selain empat kitab rujukan mereka, isi kitab-kitab itu dituliskan dalam Wasa’ilusy Syi’ah. (Lihat: Wasa’ilusy Syi’ah, jilid. 1, pengantar. Dan lihat pula dalam Adz-Dzari’ah, jilid. 4, hal. 352-353).

Begitu juga Nuri At-Thabrasi ikutan mengklaim bahwa dirinya menemukan kitab-kitab yang belum pernah ditulis sebelumnya walaupun dirinya hidup di abad 14 Hijriyah, Agho Barzak Tahrani mengatakan: “Hal yang mendorong Husein Nuri At-Thabrasi untuk menulis Mustadrak Al-Wasa’il adalah karena At-Thabrasi menemukan kitab-kitab penting yang belum pernah ditulis dalam kitab-kitab kumpulan hadits Syi’ah sebelumnya.” (Lihat Ad-Dzari’ah, jilid. 21, hal. 7). Ulama Syi’ah menganggap hadits-hadits baru hasil penemuan Nuri At-Thabrasi yang dituliskan dalam Mustadrak Al-Wasa’il sebagai hadits-hadits yang sangat penting dan diperlukan, tidak bisa ditinggalkan, ulama Syi’ah yang bernama Al-Khurasani –seperti dinukil dalam Adz-Dzari’ah– mengatakan: “Setiap mujtahid tidak boleh berijtihad sebelum merujuk ke kitab Mustadrak Al-Wasa’il dan menelaah hadits-hadits yang termuat di dalamnya.” (Lihat Ad-Dzari’ah, jilid. 2, hal. 111). Apakah ini berarti sebelum adanya kitab Mustadrak Al-Wasa’il ucapan ulama mereka tidak dapat dijadikan pegangan? Silahkan anda merasa heran, barangkali masih ada lagi hadits yang baru ditemukan.

Riwayat-riwayat itu tidak ditemukan di literatur kuno Syi’ah, mengapa demikian? Mengapa Al-Kulaini tidak meriwayatkannya padahal dia dapat menghubungi empat “dubes” Imam Mahdi? Al-Kulaini memberi judul kitabnya dengan Al-Kafi karena dianggapnya cukup bagi Syi’ah, bahkan kitab Al-Kafi telah ditunjukkan kepada Imam Mahdi –yang bersembunyi hingga hari ini– melalui “duta besar ”, kemudian Imam Mahdi memberikan komentar: “Kitab ini cukup bagi Syi’ah kami.” Begitu juga At-Thusi menyatakan, bahwa dirinya mengumpulkan hadits-hadits Syi’ah yang berkaitan dengan fiqih dari kitab-kitab literatur inti Syi’ah, dalam kitabnya Tahdzibul Ahkam, tidak ada yang terlewatkan kecuali hanya sedikit saja. (Lihat Al-Istibshar, jilid. 1, hal. 2).

Apakah kitab-kitab ini ditulis pada era dinasti Shafawi di Iran lalu ditulis atas nama para ulama klasik Syi’ah? Bisa jadi, dan memang sangat mungkin. Bahkan empat kitab Syi’ah yang utama (Al-Kafi, Tahdzibul Ahkam, Al-Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih) tidak luput dari tambahan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Salah satu buktinya, bisa dilihat dalam kitab Ad-Dzari’ah –jiild. 4, hal. 504– dan A’yanus Syi’ah –jilid. 1, hal. 288– juga keterangan ulama Syi’ah hari ini, bahwa jumlah hadits Tahdzibul Ahkam adalah 13.950 hadits, tetapi penulisnya sendiri menyatakan dalam kitab Iddatul Ushul, (jilid. 1, hal. 139, cetakan Sitarah – Qum) bahwa jumlah hadits Tahdzibul Ahkam hanya 5000 lebih, artinya tidak mencapai jumlah 6000. (Bisa dilihat dalam kitab Al-Imam As-Shadiq, hal. 485).

Ternyata jumlah hadits Tahdzibul Ahkam bertambah lebih dari dua kali lipat, inilah bukti nyata yang ada di depan mata. Begitu juga ulama Syi’ah masih berbeda pendapat, apakah kitab Raudhatul Kafi –kitab Al-Kafi jilid 8– termasuk dalam kitab Al-Kafi yang ditulis oleh Al-Kulaini, ataukah merupakan tambahan yang ditulis setelah kitab Al-Kafi. (Bisa dilihat dalam kitab Raudhatul Jannat, jilid. 6, hal. 176-188), seolah-olah penambahan dalam kitab adalah hal biasa dan sangat mungkin terjadi…

Yang lebih berbahaya, seorang ulama Syi’ah terkemuka yang bernama Husein bin Haidar Al-Karki Al-Amili (wafat th 1076 H) mengatakan: “Kitab Al-kafi berjumlah lima puluh (50) jilid, memuat riwayat dengan sanad yang bersambung kepada para Imam.” (Raudhatul Jannat, jilid. 6, hal. 114), sementara At-Thusi (wafat 360 h) mengatakan bahwa kitab Al-Kafi berjumlah 30 jilid… (Lihat Al-Fahrasat, hal. 161).

Apakah kitab Al-Kafi mengalami penambahan selama kurun waktu antara abad ke lima dan sebelas hijiriyah? Tambahannya pun bukan sedikit, tapi 20 jilid, padahal setiap jilid terdiri dari banyak bab yang memuat banyak hadits. Mungkin hal ini tidak menjadi masalah bagi Syi’ah, jika mereka berani memalsu riwayat dari Nabi SAW dan Ahlul Bait, mestinya memalsu buku dari gurunya bukanlah hal susah, bukti dalam hal ini sangat banyak, yang kami paparkan sudah cukup bagi mereka yang mau menggunakan akalnya yang masih sehat. Kita tanyakan lagi kepada penganut Syi’ah, mana sumber ajaran agama kalian? Kalian banyak menggunakan logika dan mantiq karena miskin dalil naqli, apalagi setelah tahu bahwa kitab literatur kalian terbukti masih harus diragukan lagi validitasnya. [H/S.com].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: